Rabu, 22 Maret 2017

UPACARA BASATUREN


TUGAS 2 (KAMIS, 23 MARET 2017)

NAMA : LARAS AYU SETIAWATI
NIM : E1B014021
NOMOR HP : 082341191564

UPACARA BASATUREN
Salah satu upacara yang berasal dari pengaruh Hindu yang masih berkembang di Sumbawa adalah upacara basaturen, yaitu sebuah upacara ritual yang dilaksanakan di pantai dalam bentuk pemberian sesajian yang dibuang ke laut. Upacara ini biasanya dilaksanakan ketika masyarakat memiliki hajat-hajat tertentu misalnya ; agar cepat mendapat jodoh, agar usaha berjalan lancar, agar perkawinan berjalan dengan selamat, dll. Sesajian dapat berupa ketan hitam (lege pisak), beras (loto) kuning dan putih, ayam dan pisang. Seluruh sesajian kemudian dimasukkan ke dalam perahu kecil yang khusus di buat untuk kepentingan upacara. Dalam upacara ini biasanya terdapat orang yang menari (bajoge) dengan menggunakan keris yang diiringi dengan musik tradisional gong genang. Upacara ini diperkirakan di bawa oleh masyarakat pendatang dari Bugis dan Makasar yang mendiami wilayah pesisir Sumbawa yang kemudian menjadi tradisi dan bagian dari adat Sumbawa. Saat ini upacara basaturen masih dilaksanakan di kecamatan Moyo Hilir terutama desa Serading, Berare dan Moyo, di Boal kecamatan Empang, dll, sedangkan tempat pelaksanaan upacara biasanya dilaksanakan di tempat-tempat tertentu seperti Tanjung Menangis, Tanjung Bele, Liang Kele Labuhan Ijuk, Teluk Saleh, dll. (http://samawasamawa.blogspot.co.id/2011/12/upacara-basaturin.html)
Dari uraian di atas upacara basaturen tidak hanya dilaksanakan di kecamatan Moyo Hilir dan kecamatan Empang saja. Akan tetapi itu terkadang di lakukan oleh keluarga yang menyakini dan mempercayai adat tersebut. Salah satunya adalah di keluarga saya sendiri. Saat itu tepatnya pada malam tanggal 9 Juli 2015, saudara kandung saya melaksanakan proses barodak di kediaman calon pengantin wanita nya yang terletak di wilayah desa Brang Kolong kecamatan Pelampang. Pada saat barodak, keluarga calon mempelai wanita menggunakan Odak Mamak (mangir) yang dipakai pertama kali terbuat dari ramuan sirih pinang, beras dan buah meriga. Fungsinya untuk membersihkan tubuh dari kotoran. Acara berjalan dengan lancar dari proses  melakukan segala tahapan barodak hingga dilaksanakannya upacara resepsi pernikahan pada tanggal 21 Juli 2015. Akan tetapi seminggu setelah menikah, tiba-tiba saudara saya sakit, mukanya bengkak seperti benjolan telur ayam. Tiga minggu konsul ke dokter tetapi tidak ada hasilnya. Sehingga saudara saya di bawa ke sandro (dukun), karena keluarga saya juga masih memiliki Kepercayaan animisme yaitu mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini baik itu hidup ataupun mati mempunyai roh (seperti kawasan tertentu, gunung, laut, sungai, gua, pohon dan batu besar). Setelah di bawa ke sandro (dukun), kebetulan sandro tersebut masi memiliki ikatan keluarga dengan keluarga saya. Tepatnya hari itu adalah hari Jumat, nah dilakukanlah proses tilek menggunakan tepi (melihat menggunakan), ternyata penyebab dari sakitnya yaitu maroda atau rabuya (mencari, karna ada sesuatu yang tidak lengkap ketika proses barodak ataupun turen ai), setelah di ingat-ingat ternyata pada saat proses turen ai pengantan (mandi pengantin) sandro atau ina odaknya lupa memandikan kedua calon mempelai dengan air dari pitu buen (dari tujuh sumur). Akhirnya dilakukanlah proses upacara basaturen di wilayah Desa Panimang Saliper Ate Kecamatan Labuhan Badas Tepatnya di pantai Saliper Ate. Dimana bahan yang wajib ada di pesiapkan yaitu sampan kecil (perahu kecil) yang memiliki layar dari kain putih, nasi empat rupa (nasi empat warna yaitu putih, kuning, merah dan hitam), mama pekok (rokok dan daun sirih), ayam hidup warna hitam, ayam panggang, dan pisang satu sisir. Sehari setelah melaksanakan proses tersebut, Alhamdulillah sakit yang di rasakan mulai menghilang sedikit demi sedikit. Hingga pada hari ini atas Kuasa ALLAH melalui upacara basaturen, penyakit itu hilang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar