TUGAS 2 (KAMIS, 23 MARET 2017)
NAMA
: LARAS AYU SETIAWATI
NIM
: E1B014021
E-MAIL
: larasayusetiawati95@gmail.com
Kompasiana
: http://www.kompasiana.com/laras95
Blogger
: http://larasayusetiawati.blogspot.co.id/
NOMOR HP :
082341191564
UPACARA
BASATUREN
Salah satu upacara yang berasal dari pengaruh Hindu yang
masih berkembang di Sumbawa adalah upacara basaturen, yaitu sebuah
upacara ritual yang dilaksanakan di pantai dalam bentuk pemberian sesajian yang
dibuang ke laut. Upacara ini biasanya dilaksanakan ketika masyarakat memiliki
hajat-hajat tertentu misalnya ; agar cepat mendapat jodoh, agar usaha berjalan
lancar, agar perkawinan berjalan dengan selamat, dll. Sesajian dapat berupa ketan
hitam (lege pisak), beras (loto) kuning dan putih, ayam
dan pisang. Seluruh sesajian kemudian dimasukkan ke dalam perahu
kecil yang khusus di buat untuk kepentingan upacara. Dalam upacara ini biasanya
terdapat orang yang menari (bajoge) dengan menggunakan keris yang diiringi
dengan musik tradisional gong genang. Upacara ini diperkirakan di bawa oleh
masyarakat pendatang dari Bugis dan Makasar yang mendiami wilayah pesisir
Sumbawa yang kemudian menjadi tradisi dan bagian dari adat Sumbawa. Saat ini
upacara basaturen masih dilaksanakan di kecamatan Moyo Hilir terutama desa
Serading, Berare dan Moyo, di Boal kecamatan Empang, dll, sedangkan tempat
pelaksanaan upacara biasanya dilaksanakan di tempat-tempat tertentu seperti
Tanjung Menangis, Tanjung Bele, Liang Kele Labuhan Ijuk, Teluk Saleh, dll. (http://samawasamawa.blogspot.co.id/2011/12/upacara-basaturin.html)
Dari
uraian di atas upacara basaturen tidak hanya dilaksanakan di kecamatan Moyo Hilir dan kecamatan Empang saja. Akan tetapi
itu terkadang di lakukan oleh keluarga yang menyakini dan mempercayai adat
tersebut. Salah satunya adalah di keluarga saya sendiri. Saat itu tepatnya pada
malam tanggal 9 Juli 2015, saudara kandung saya melaksanakan proses barodak di
kediaman calon pengantin wanita nya yang terletak di wilayah desa Brang Kolong
kecamatan Pelampang. Pada saat barodak, keluarga calon mempelai wanita
menggunakan Odak Mamak (mangir) yang dipakai pertama kali
terbuat dari ramuan sirih pinang, beras dan buah meriga. Fungsinya untuk
membersihkan tubuh dari kotoran. Acara berjalan dengan lancar dari proses melakukan segala tahapan barodak hingga dilaksanakannya
upacara resepsi pernikahan pada tanggal 21 Juli 2015. Akan tetapi seminggu
setelah menikah, tiba-tiba saudara saya sakit, mukanya bengkak seperti benjolan
telur ayam. Tiga minggu konsul ke dokter tetapi tidak ada hasilnya. Sehingga saudara
saya di bawa ke sandro (dukun), karena keluarga saya juga masih memiliki Kepercayaan
animisme yaitu mempercayai bahwa
setiap benda di Bumi ini baik itu hidup ataupun mati mempunyai roh (seperti
kawasan tertentu, gunung, laut, sungai, gua, pohon dan batu besar). Setelah di
bawa ke sandro (dukun), kebetulan sandro tersebut masi memiliki ikatan keluarga
dengan keluarga saya. Tepatnya hari itu adalah hari Jumat, nah dilakukanlah
proses tilek menggunakan tepi (melihat menggunakan), ternyata penyebab dari
sakitnya yaitu maroda atau rabuya (mencari, karna ada sesuatu yang tidak
lengkap ketika proses barodak ataupun turen ai), setelah di ingat-ingat
ternyata pada saat proses turen ai pengantan (mandi pengantin) sandro atau ina
odaknya lupa memandikan kedua calon mempelai dengan air dari pitu buen (dari
tujuh sumur). Akhirnya dilakukanlah proses upacara basaturen di wilayah Desa
Panimang Saliper Ate Kecamatan Labuhan Badas Tepatnya di pantai Saliper Ate. Dimana
bahan yang wajib ada di pesiapkan yaitu sampan kecil (perahu kecil) yang
memiliki layar dari kain putih, nasi empat rupa (nasi empat warna yaitu putih, kuning,
merah dan hitam), mama pekok (rokok dan daun sirih), ayam hidup warna hitam,
ayam panggang, dan pisang satu sisir. Sehari setelah melaksanakan proses
tersebut, Alhamdulillah sakit yang di rasakan mulai menghilang sedikit demi
sedikit. Hingga pada hari ini atas Kuasa ALLAH melalui upacara basaturen,
penyakit itu hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar